Sebuah Harapan

.

Aku terkadang jatuh, dan bangun lagi. Terkulai lemas dihempas asa. Putus asa terpojok di ujung mimpi yang tak kunjung nyata. Aku selalu berjalan biasa mengikuti kaki melangkah- tanpa berencana. Aku singgahi peristiwa tanpa tahu arti semua.

Terkadang dunia mengangkatku tinggi sehingga aku lupa untuk turun dan bahkan tidak tahu caranya untuk turun lagi. Semua mendukungku dan menyanjungku, terbang tinggi, tinggi dan tak pernah menyentuh daratan. Namun dengan ganas badai pesimis kembali menghempas tanpa ampun. Badanku ambruk di tanah. Terjembab penuh Lumpur dan tidak bisa lagi bangun, lemah dan terus lemah. Yang menyedihkan dari semuanya aku merasa aman dengan keadaan lemahku.


Satu titik dalam kehidupan sedikit demi sedikit mulai mengubahku. Pertemuan demi pertemuan dengan sekenario kehidupan lambat laun mempengaruhi cara pandangku menghadapi dunia. Aku ingin terus menanjak dan tidak ingin turun lagi. Biarlah aku menunda perjalanan untuk sementara, tapi aku tak ingin turun lagi. Biar perjalanan hidup ini terlihat seperti garis miring yang terus tersambung ke atas dengan kemiringan yang konstan.


Kehidupan pasti terus bergulir, waktu akan terus berputar pada porosnya namun menuju masa depan, dan masa lalu biarlah tertinggal di belakang dan pasti tidak akan mengejar dan tidak akan bisa mengejar.


Hidup, tidak pernah akan tahu kapan berakhir. Tapi kutahu, bahwa hidup yang berarti tidak akan pernah leih buruk dari hidup tanpa arti.


Saat ini, di satu titik dalam putaran roda kehidupan- saat inilah hidup itu. Masa lalu adalah masa penentuan. Masa depan adalah hasil dan mungkin ketiadaan. Berbuat yang terbaik di satu titik aku berdiri sekarang inilah kehidupan sebenarnya. Kebenaran akan arti positifisme.


Aku tidak ingin berbicara banyak lagi. Tapi tidak bungkam. Aku akan bergerak dan melangkah, Bergerak..maka kehidupan akan menemukan jalannya. Dan nasib baik akan menemukan orang yang berbuat baik. Membawanya sehingga menemukan segala kemudahan.


Ada orang-orang yang sangat kuat menahan perasaannya. Tidak pernah keluh kesah keluar dari mulutnya. Menikmati kepedihan dengan senyuman tulus karena mengerti akan hakikat kehidupan. Karena tahu bahwa hidup telah ditentukan.


Tapi apakah kita harus berdiam diri sehingga kepedihan itu tidak lagi terasa pedih, bahkan menjadi sahabat setia yang tak diharapkan kepergiannya. Tidak sekali lagi TIDAK. Aku harus bergerak, sekalipun hanya bergeser sedikit. Tapi bukankah yang sedikit akhirnya akan mengukir garis menuju akhir perjalanan.


“Sudahlah…karena saat ini pusaran air sudah tidak tetap di tempatnya. Tidak lagi merusak tempatnya berdiam diri. Karena saat ini pusaran air itu terus mengalir dan melimpah ruah membagi kesegaran dan memberikan kesejukan kepada yang membutuhkan.

Seperti mesin ATM yang selalu memberi dan tidak pernah meminta.

Maka bunga-bunga indah berwarna kuning, putih, jingga, ungu dan merah berseri bermekaran karena sejuknya pusaran air telah menyegarkan segalanya. Membagi percikan airnya untuk bunga-bunga yang terus berseri menghiasi taman-taman.

15-10-2008 Ciputat masih seperti dulu-empat tahun yang lalu.



Baca Juga Yang Ini :



.

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar ya..!! Untuk membantu saya..

BlogCatalog

Recent Post

TOYOTA SEO AWARD